|
Tadi malam aku letih, terlalu letih untuk sekedar merenungi apa yang sedang terjadi atas diriku. Hanya dalam sekejap, aku langsung tertidur. Aroma bantal yang sudah lama aku tinggalkan dan lembutnya kasur mewah telah berhasil membuaiku dalam mimpi yang amat panjang. Hampir pukul 9 pagi aku terbangun. Semua belanjaan yang berserakan telah berada pada tempatnya masing-masing. Komputer telah terpasang rapi, diatur sedemikian rupa hingga layar monitor komputer Ega dan komputerku tidak tidak saling terlihat. Mungkin itu demi menjaga privacy. Di meja makan telah tersaji hidangan yang begitu melimpah. Jika hanya dimakan oleh dua orang, porsi itu cukup untuk 3 hari. Seafood, ayam panggang dan semua yang tercakup dalam konsep empat sehat lima sempurna telah tersedia di meja itu. Aku melihat sebuah TV layar plasma berukuran 62 inci dibiarkan menyala. Meskipun sebesar itu, gambarnya terlihat utuh dan jelas. Suaranya juga enak didengar, melantunkan sebuah musik klasik karya Mozart. Sepertinya Ega memiliki antena parabola, karena acara itu aku perhatikan berasal dari channel luar negeri. Rak memanjang yang ada di ruang utama, bisa dikatakan sebagai cermin dari hoby yang dimiliki Ega. Koleksi yang dipajang sebagian besar merupakan hasil budaya atau ciri khas dari negara-negara yang pernah dikunjungi Ega. Aku mengambil senjata bumerang yang diletakkan berdampingan dengan boneka kangguru. Melihat-lihatnya kemudian mengembalikannya ke tempat semula. Bagian yang paling aku sukai adalah deretan buku. Kebanyakan berisi buku yang membahas tentang computer, psikologi dan filsafat Barat. Selebihnya berupa buku-buku novel, humor, puisi dan karya sastra lainnya. Jika aku bisa tinggal lama di tempat ini, aku akan membaca semuanya. Karena bagaimana pun, dengan membaca aku akan banyak ilmu, banyak tahu, makin maju. Di belakang TV ada kamar yang pintunya setengah terbuka. Aku melongok ke dalam dan ternyata itu ruang olah raga. Peralatan berat dan ringan untuk lelaki dan perempuan bercampur jadi satu. Apa yang pernah diiklankan di TV sepertinya ada semua. Mungkin kakaknya Ega juga sering latihan di sini. Cermin tebal yang memenuhi tiga dinding memberikan kesan luas pada ruangan. “Rumah ini seperti surga saja,” bisikku pada diri sendiri. Aku mendengar suara kecipak-kecipuk seperti ada yang sedang main air. Setelah aku intip ternyata di balik tirai ada Ega yang sedang asyik berenang. Hatiku berdegup kencang, namun aku menikmatinya saja. “Dia pantas sekali memakai baju renang itu,” batinku. Kini aku tahu dari mana Ega mendapatkan tubuh indahnya. Aku masih saja sulit untuk mempercayai bahwa sekarang aku sedang berada dalam surga kecil bersama bidadari yang bernama Ega. Andaikan ini mimpi, aku tidak mau terbangun dari tidur. Mataku tidak juga berhenti memandang. Melotot sedemikian rupa seakan sedang mencoba menyuplai ‘vitamin A’ sebanyak-banyaknya. Tatkala Ega membasuh tubuhnya yang padat berisi di sebuah shower, aku langsung berlari pelan menuju kamar mandi di depan kamarku. Menyembunyikan diri dari dosa-dosa pengintipan.
Sehabis mandi, aku mendirikan shalat rutin setelah tidur. Aku lebih suka menamakannya begitu karena waktu shubuh sudah lama berlalu. Aku telat! Ada kabar bahwa hukum tidak menggapai umat yang ketiduran tanpa disengaja. Aku hanya bisa berharap semoga itu benar adanya. Tentu saja tanpa berniat mengulangi, karena itu akan berarti disengaja. Aku keluar dari kamarku dengan pakaian baru. Melihat Ega sibuk dengan laptop baruku, dengan ceria aku langsung menyapanya. “Hai.. selamat pagi Ega. Bagaimana dengan penampilan baruku?” Dia memperhatikan bajuku, kemudian senyumnya pun mengembang. “Masih banyak noda sisa dari pengembaraan, tapi cukup tampan, manis kok. Ngga pa-pa, ntar Q-ta gosok di salon sedikit demi sedikit sampai bersinar.” “Digosok? Memangnya aku permata hingga bisa bersinar?” aku tertawa. “Ega menemukan mas sebagai sosok yang berharga, karena itulah Ega bawa ke sini. Ega melihat banyak potensi dalam diri mas Dimas, namun sepertinya butuh sedikit sentuhan manusia untuk mengaktualisasikannya. Nah, Ega akan jadi manusia itu.” “Begitu yach.. terus cara membantuku bagaimana?” “Yang menentukan takdir mas Dimas adalah diri mas sendiri. Posisi Ega hanya sebagai fasilitator. Ega akan memberikan fasilitas yang memadai untuk mewujudkan apa yang mas butuhkan. Tinggal request aja,” Ega tersenyum. “Bolehkah aku tahu mengapa dan untuk apa non Ega melakukan ini semua?” “Ega melakukan ini untuk diri Ega sendiri. Sahabat adalah hadiah yang paling berharga yang bisa Q-ta berikan pada diri kita sendiri. Dan sebagai sahabat yang baik pasti akan selalu memperhatikan perkembangan sahabatnya. Ega percaya pada mas Dimas, karenanya Ega berharap bisa bersahabat dengan mas.” “Bagaimana jika suatu saat aku berkhianat?” “Ega akan terluka. Namun jika itu terjadi, maka terjadilah..” “Baiklah! Sebuah kehormatan bagiku bisa bersahabat dengan non Ega. Aku janjikan kesetiaanku. Dan aku akan terus berusaha memberikan yang terbaik untuk non Ega,” kataku berapi-api. “Oia, tidak apa-apakah jika aku SKSD?” ? Sok Kenal Sok Dekat. “SKSD.. boleh aja sih, asal nggak menerobos garis pembatas, menghormati privacy masing-masing.” “Kalau begitu bagaimana kalau kita kaitkan jari kelingking kita untuk mengukuhkan persahabatan kita?” usulku pada Ega. Dia menjawab usulku dengan memberikan jari kelingkingnya, aku menyambutnya dengan suka cita. Seiring dengan terkaitnya jari kami berdua, aku mengucap kata, “Sahabat sejati!” kemudian Ega mengikuti ucapanku. Kami tersenyum bahagia.
Di Meja makan ini mas yang paling tua, jadi mas aja yang memimpin doa,” pinta Ega. Aku kaget, tidak tahu harus mengucap apa. Di atas, bagian tengah pada tembok kamar Ega menempel ukiran salip yang begitu indah, polos tanpa ada Yesus kristus. Diletakkan tepat di tengah-tengah wilayah hitam dan putih. Aku tidak langsung merespon dan sesekali mencuri pandang pada lambang salip. Ega menyadari hal itu kemudian menegurku. “Ada apa dengan simbol itu? Apakah sekarang Q-ta akan saling bunuh?” kelakar Ega. “Apa? Bukan begitu, aku lebih suka pertemuan kita seperti ini. Lebih kepada ‘belaian’ mesra ketimbang ‘benturan’ yang saling melukai. Lambang itu bagus, tidak ada masalah bagiku,” jawabku dag-dig-dug. “Tenang aja, Ega memeluk siapa pun yang ingin Ega peluk tanpa melihat identitas agamanya. Bagi Ega, agama adalah sebuah panggilan jiwa yang masuk dalam wilayah privacy seseorang. Hubungan antara individu dengan Tuhannya yang orang lain tidak boleh turut campur kecuali telah mendapat izin dari yang bersangkutan. Kalau boleh tahu, dari sisi mana mas melihat hingga mengatakan bahwa lambang salip itu bagus?” tanya Ega penasaran. “Bagiku, lambang salip adalah sebuah seni, hasil budaya manusia. Empat sisinya melambangkan empat unsur kehidupan yakni tanah, api, udara dan air. Jika sisi terpanjang ditancapkan hingga menjadi seperti simbol Palang Merah, maka akan terbentuk sebuah ajaran mengenai konsep keseimbangan antara vertikal dan horisontal. Sehingga hubungan antara makhluk dan Khalik akan semakin dekat. Dan hubungan antara makhluk dengan sesama makhluk akan semakin erat.” “Sebuah penafsiran yang menarik. Hanya saja kenapa pakai ditancapkan? Ega merasa itu terkesan dipaksakan.” “Sebagaimana yang kita tahu bahwa sesuatu yang tidak memiliki alas dasar yang kuat akan mudah roboh. Jadi anggap saja penancapan itu perlu, seperti akar yang menghujam. Akar yang aku maksud adalah pengetahuan atau pemahaman yang benar. Fungsinya sebagai peletup minat untuk mengamalkan keseimbangan.” “Hemh.. itu masukan baru buat Ega, makasih. Ega memang perlu mendiskusikan hal-hal seperti ini. Karena terus terang, aku masih banyak menyimpan keraguan.” “Aku mengerti, apa yang dialami non Ega juga dialami oleh hampir setiap orang. Dalam agama Islam, ada hadis yang mengatakan bahwa setiap orang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Orang tua-lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi atau pun Nasrani. Maksudku, agama kita saat ini adalah agama turunan. Aku juga menyimpan kegelisahan, mengalami banyak pergulatan batin. Aku tidak mau berhenti pada hadis itu. Aku ingin menggeledah agamaku secara mendalam. Keraguan telah mendorongku untuk mencari kepastian.” “Apakah mas sudah menemukan yang mas cari?” “Aku mencari dan menemukan, karena menemukan maka aku mencari, demikian seterusnya. Perjalanan tanpa henti menuju nilai-nilai tertinggi.” “Kenapa tak pernah sampai?” “Karena aku berada di titik nol, sedangkan Tuhan ada di titik tak terhingga. Aku hanyalah keterbatasan yang mencoba mengukur keTakterbatasan. Seperti burung yang ingin menuju matahari, dia tidak akan pernah sampai. Tapi jika terus saja terbang, setidaknya dia lebih tinggi dan lebih dekat dengan Matahari.” “Emh, kembali ke awal. Kalau mas memang tidak mempermasalahkan lambang salip, kenapa tadi hanya terdiam?” “Aku belum pernah memimpin doa menggunakan bahasa Indonesia, utamanya dengan pemeluk agama yang berbeda. Jadi aku perlu diam untuk merangkum dan merangkai kata. Aku harus hati-hati, karena kita akan menjadi apa yang kita doakan.” “Kenapa sambil melirik salip, hayo?” Ega kelihatan belum puas, seakan menuduh bahwa aku hanya mencoba merasionalisasi keadaan. Aku mendesah. “Itu karena tadi aku bingung, nama Tuhan kita berbeda penekanannya. Memang Tuhan tak terbatasi oleh nama. Meski nama yang kita sebut berbeda, sesungguhnya kita sedang meminta dan memohon petunjuk dari Tuhan yang sama. Warna kulit sapi bisa saja berbeda, tetapi susunya sama. Namun pemahaman seperti itu belum tentu dimiliki setiap orang. Bagaimana kalau kita pakai nama ‘Tuhan’ saja? Bukankah itu terdengar lebih netral, lebih untuk semuanya?” “Oke, Ega sepakat. Setuju menyepakati sepakat untuk setuju. Dialog yang menarik, ada pencerahan yang Ega rasakan. Sayangnya perut Ega sudah keroncongan karena habis berenang. Ayo kita makan.” Setelah berdoa kami memenuhi hak tubuh dengan se-proporsional mungkin. Mencoba tidak menganiaya perut karena banyaknya makanan yang tersedia. “Apakan non Ega memasak semua masakan ini sendiri?” tanyaku sambil melahap cumi-cumi. “Untuk soal makanan harian, Ega serahkan pada tetangga, mereka Muslim yang taat. Ini jatah sehari dan setiap hari sebanyak ini, jadi jangan ragu untuk tambah. Tubuh mas sudah jelas kurang nutrisi.” “Kalau begitu bagaimana kalau kita mulai program bodybuilding saja? Fasilitas di sini sangat memungkinkan untuk binaraga. Tapi nanti jangan kaget ya jika makanan sebanyak ini mampu aku habiskan sendiri.” Dia tertawa. “Ega setuju dan gembira mendengarnya. Ega akan mendukung 111%. Jangan khawatirkan soal makanan. Mulailah dengan mencari informasi perihal binaraga di internet. Pelajari apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Bila perlu, akan Ega sediakan suplemen-suplemen penunjang.” “Terima kasih, non Ega memang cuantiek banget!” cetusku. “Ya-iya-lah, Ega gitu loh!” dia tertawa. Aku berharap dia tersipu malu mendengar pujianku, merona merah atau apalah. Ealah, bentukan reaksinya malah gitu. Dasar, kePe-De-an tuh cewek. Untung dia cantik beneran. Di lubuk hatiku, aku terus mengadu baik dan buruknya. Dan kesimpulannya adalah aku memang harus menfotokopi ide itu kea lam nyata. Membina raga, memenuhi hak-hak tubuh yang selama ini ku dhalimi. Setidaknya aku nanti bisa menjadi bodyguard pribadi Ega.
Mouse nirkabel telah berada dalam terkamanku. Pasrah untuk dianiaya. Siap menjadi obyek penderita, mengawali titik dari garis panjang yang hendak ku buat. Di depan komputer jari telunjukku mulai menari, klik sana, klik sini. Tanpa sengaja aku masuk dalam sebuah zona di mana cewek telanjang terpampang di mana-mana. Secepat kilat aku exit dari situs itu kemudian melirik Ega dengan hati berdebar, malu andai dia tahu. Meski aku yakin reaksi Ega akan datar-datar saja mengingat gambar bugil dan sejenisnya adalah satu paket dari apa yang ditawarkan internet. Dalam konteks ini, istilah the man behind the gun sepertinya cocok diterapkan. Di mana seseorang memegang kendali untuk memutuskan memilih sisi gelap atau terang dari internet. Kali pertama aku mengakses internet adalah pada masa SLTA. Pada masa itu gejolak jiwa hanya menghendaki hiburan. Setiap ke warnet bukannya mencari informasi untuk upgrade diri, malah justru melampiaskan hawa nafsu yang hampir-hampir tak terkendali. Melihat apa yang tak boleh dilihat, demikian seterusnya. Hingga suatu malam aku merenung dan mendapati bahwa apa yang ku lakukan hanya membuang waktuku. Aku pun teringat Bunda yang sudah sejak awal SLTP telah tiada. Konon katanya, orang yang meninggal masih ada di sekeliling kita, memperhatikan gerak-gerik kita. Kematian hanyalah perpindahan dari apa yang semula terlihat menjadi tidak terlihat. Mirip dengan logika kehidupan manusia dengan jin. Kita tidak melihat mereka, namun mereka mampu melihat kita. Ingatan itu cukup efektif dalam menghentikan ‘persetubuhan’ liarku. Aku tidak ingin membalas perjuangan dan pengorbanan Bunda dengan kekecewaan, tidak ingin mempermalukan beliau di alamnya. Dan salah satunya adalah dengan cara bersikap ihsan, menjaga perilaku, baik tatkala sepi maupun ramai. Seks memang penting, namun bukan yang terpenting. Seksualitas akan menjadi mulia sejauh ada kesesuaian dengan hukum-hukum yang mengaturnya. Seks bisa jadi merupakan terminal yang selalu dihampiri pendatang baru dalam dunia maya. Sebagaimana yang terjadi padaku. Namun terminal bukanlah tujuan melainkan pemberhentian sementara. Oleh karenanya aku harus terus melanjutkan perjalananku. Prioritas pertama dan terutama yang aku agendakan adalah pengembangan diri dan memapankan diri. Aku ingin serius, mulai bersungguh-sungguh dalam kesungguhan, tidak berkutat dalam dunia entertainment semata. Tidak lagi bermain-main dalam kesungguhan, tidak pula bersungguh-sungguh dalam permainan. Aku ingin memakai tongkat pinjaman dari Ega semaksimal mungkin. Agar bisa cepat berjalan sendiri atau bahkan berlari. Cukup banyak informasi mengenai binaraga yang ku dapatkan. Dari pola latihan, pengaturan nutrisi, suplemen dan sebagainya. Rumusan formulanya lebih kurang seperti ini: Latihan teratur + Gizi seimbang + Istirahat cukup = Peningkatan drastis. Setelah semua info aku edit seperlunya, data itu aku print kemudian aku jilid menjadi buku. Lebih nyaman dan lebih sehat membaca pada kertas ketimbang memelototi layar komputer. Tubuhku sudah memiliki tujuan. Karenanya beberapa pose binaragawan aku cetak pada kertas photo. Dengan demikian, aku lebih mudah melakukan visualisasi atas apa yang aku inginkan. Jika budaya binaraga itu benar-benar aku terapkan, revolusi besar-besaran sepertinya akan terjadi padaku. Gaya hidup yang sepenuhnya berbeda. Misalnya dalam hal mengkonsumsi air. Air merupakan elemen terpenting bagi tubuh. 2/3 dari berat badan manusia merupakan air, dan otot mengandung banyak air. Jika rata-rata orang membutuhkan air kurang lebih 0.5 galon perhari maka seorang binaragawan membutuhkan setidaknya 1-2 galon perhari. Itu artinya, aku harus membiasakan mengambil gelas dan minum setiap kali melihat air. Begitu juga dalam hal makan. Kemampuan tubuh untuk mencerna makanan sangat terbatas. Oleh sebab itu jika orang biasa membagi waktu makannya 3 kali sehari maka seorang binaragawan lebih baik membagi waktu makannya menjadi 4-7 kali sehari dalam porsi yang lebih kecil. Dengan cara itu kebutuhan energi akan terpenuhi dengan baik dan makanan yang masuk juga dapat dicerna dengan baik oleh tubuh. Makanan yang boleh dikonsumsi pun sangat selektif. Jika aku berbelanja maka melihat label makanan akan menjadi sebuah keharusan. Memilih produk yang mengandung protein dan karbohidrat tinggi namun lemak rendah. Hal itu perlu karena nutrisi yang sangat penting bagi perkembangan otot adalah protein. Normalnya setiap orang membutuhkan konsumsi protein 1 gr per 1 kg berat tubuhnya perhari. Sedangkan seorang binaragawan membutuhkan kurang lebih dua kali lipatnya, yaitu sebanyak 2 s/d 3 gr per kg berat tubuhnya perhari. Tubuh manusia mampu mencerna 30-50 gram protein dalam sekali makan, jadi kalau bisa tidak lebih dari itu agar dapat tercerna dengan baik. Dengan mengkonsumsi protein yang mencukupi, perkembangan otot akan lebih optimal dan otot akan terlihat lebih keras, kekuatan otot bertambah, proses pemulihan otot menjadi lebih cepat, dll. Karbohidrat dan lemak juga penting karena tubuh memerlukannya sebagai sumber tenaga. Ada tiga macam sumber karbohidrat, yang pertama adalah sumber karbohidrat yang berasal dari makanan berserat yaitu buah-buahan dan sayur-sayuran, kemudian simple karbohidrat yang didapat dari konsumsi gula dan yang terakhir adalah kompleks karbohidrat yang didapat dari nasi, kentang, jagung, roti, dll. Simple karbohidrat dalam waktu singkat diubah menjadi energi. Kelebihan energi yang ada akan langsung tersimpan dalam tubuh dalam bentuk lemak. Sedangkan kompleks karbohidrat akan diproses dalam waktu yang cukup lama sebelum menjadi tenaga. Energi yang dihasilkan juga dapat secara bertahap digunakan, jadi jarang terjadi kelebihan energi dari konsumsi jenis karbohidrat ini. Tiap gram protein dan karbohidrat menghasilkan 4 kalori sedangkan 1 gram lemak menghasilkan 9 kalori. Jadi ada baiknya jika membatasi konsumsi lemak dan gula lebih kurang 10-15% perhari dari seluruh konsumsi makanan agar dapat mengontrol kadar lemak dalam tubuh. Selain memenuhi kebutuhan protein dan karbohidrat, serta membatasi konsumsi lemak dan gula, tubuh juga perlu vitamin dan mineral yang mencukupi. Begitu banyak batasan namun aku akan berusaha menjadikannya sebagai adat mudah bagiku.
*** Menjelang maghrib. “Ega pengen ngambil jemuran sekaligus liat sunset, ikut nggak?” ajak Ega padaku. “Asyik tuh, di mana?” minatku langsung meletup. “Ya di lantai atas, mau di mana lagi, ayoh,” Ega menarikku hingga beranjak dari sofa. Kami melewati pintu belakang dapur. Ada tangga kecil memutar hingga lantai 2 dan 3. Bahannya dari semen namun sudah dipola sedemikian rupa hingga mirip kayu atau pepohonan. Di sebelah tangga ada gudang kecil yang andaikan ini rumahku pasti aku manfaatkan sebagai mushola. Sampai di lantai 2 Ega berhenti sejenak. Aku perhatikan hanya ada 1 kamar kecil yang mungkin itu disediakan untuk pembantu. Di samping tangga, beberapa meter dari kamar terdapat tempat untuk mencuci, lengkap dengan mesin cucinya. Ega menjelaskan singkat mengenai cara pengoperasian mesin cuci itu. Di mana meletakkan detergen, menaruh pewangi, yang mana tombol untuk mencuci, untuk pengeringan saja dan sebagainya. Panjang dan lebar lantai 3 tiada berbeda dengan lantai 2. Di samping tabung air dan jemuran, ada juga tempat duduk menghadap arah barat yang terlindungi dari air hujan atau pun sengatan sinar matahari. Aku kagum dengan perancang rumah. Semua sumber daya alam yang tersedia dimanfaatkan dengan sangat baik. Mungkin itu yang disebut rumah dengan konsep minimalize. Namun yang paling berkesan di lantai 3 adalah pemandangannya. Di kejauhan sebelah timur, terlihat gunung Mahameru yang sedang mengepulkan asapnya. Di sisi utara memang ada gunung Arjuna dan Welirang, namun yang nampak paling indah adalah gunung putri tidur pada sisi barat. Gunung itu seperti putri raksasa yang sedang tidur, sangat sesuai dengan namanya. Semburat keemasan yang mewarnai cakrawala beserta mega-mega putihnya benar-benar luar biasa indah. Pantas saja Ega menyukainya. Ega mengambil sendiri pakaian dalamnya, sedang sisanya aku. Pembaca mungkin sudah bisa menebak warnanya apa? iya benar, white and black. Keanehan justru ada pada celananya. Ketika dipakai Ega, aku tidak begitu memperhatikannya. Namun jika beberapa celana dijejerkan, kejanggalan itu pun nampak. Celana itu memang modelnya berbeda. Namun semuanya memiliki resleting di bagian paha kanan dan kiri, kira-kira sepanjang 25 cm. Sambil mengambil pakaian satu persatu, aku membuka resleting salah satu celana. Tentu saja tanpa sepengetahuan Ega. Rasa penasaranku bukannya menghilang malah tambah parah. Apa yang aku kira kantong ternyata bukan. Hanya ada ruang kosong di balik resleting. Jika celana itu dipakai dan dibuka resletingnya, maka yang akan tampak ‘hanyalah’ paha pemakainya. Lalu untuk apa Ega memasangnya? Kami berdua duduk bersanding, menatap kepergian sang mentari. Aku memperhatikan Ega, ternyata dia sedang bersedih. Dia meneteskan air mata. “Loh, kenapa?” dalam hati aku bertanya. “Bagaimana kalau Ega menceritakannya padaku? Barangkali saja beban Ega akan sedikit terkurangi,” akhirnya aku tidak tahan lagi untuk tidak bersuara. Ekspresinya tak berubah. Dia hanya diam. Sedang aku tak tahu harus berbuat apa. Baru kali itu aku sedemikian sedih ketika melihat orang lain bersedih. Agak lama kami tenggelam dalam bahasa kesunyian. Hingga kemudian kening Ega bersandar lembut di bahu kiriku. Rasa bahagia dan sedih berkecamuk menjadi satu. Bahagia karena gerakan itu menandakan bahwa aku benar-benar dipercaya. Sekian detik berlalu dan bibir itu pun mulai membuka sebuah rahasia. Dengan menunjuk ke arah barat Ega berseru, “Di perbukitan sana, di balik pepohonan cemara, tepatnya di dasar jurang terjal kedua orangtua serta serta semua kerabat Ega kehilangan nyawa. Hanya karena rem yang rusak, seluruh penumpang bis itu menemui ajalnya. Saat itu Ega sedang mengikuti MOS (Masa Orientasi Siswa) di sekolah. Sedang kakakku diberi tugas menjaga Ega di rumah. Kami berdua selamat karena tidak turut serta. Pertemuan kita kemarin adalah tahun kelima kejadiannya. Setelah mengunjungi tempat itu Ega merasa sepi, seakan sendiri hidup hidup di dunia ini. Kakak Ega satu-satunya sudah setahun lebih tidak memberi kabar. Melihat ketulusan mas Dimas dalam membantu Ega, mendadak Ega merasa tidak sendirian, merasa diperhatikan, ada orang lain yang mau peduli pada Ega. Karenanya Ega tidak mau jauh dari orang seperti itu. Ega ingin selalu bersama mas Dimas.’ “Lihatlah, mentari sudah sepenuhnya tenggelam. Itu gambaran puitis bahwa akan ada saat di mana peran kita di dunia juga akan berakhir. Hati berhak bersedih, mata berhak menangis, namun jangan terlalu lama karena masih ada peran yang harus kita mainkan. Non Ega tidak usah cemas. Selama non Ega mengizinkan, aku akan berusaha untuk selalu ada di sisi non Ega,” aku mencoba menenangkan. “Makasih mas..” Hening kembali mendominasi. Malam terlalu cepat datang. Aku hendak mengajak Ega turun karena aku harus shalat maghrib. Tapi aku lihat Ega telah terlelap dan aku tak tega membangunkannya. Terpaksa aku niat jama’ ta’khir dan berharap Tuhan memaafkanku. Perlahan aku pindahkan kepala Ega ke pangkuanku. Membenarkan posisi kakinya dan menarik sebuah selimut yang tadi dijemur, kemudian menutupi seluruh tubuh Ega kecuali kepalanya. Sorot lampu tetangga hanya menghasilkan cahaya remang. Namun itu cukup bagiku untuk melihat keindahan wajah Ega dengan jelas. Begitu bersinar. Kadang ku beranikan diriku membelai rambut lembutnya. Dan ku rasakan setiap detik begitu sangat berharga. Tubuhku bergoyang, Ega menggugahku dari tidur. “Kenapa mas tidak membangunkan Ega?” tanya Ega. “Aku tak tega melakukannya,” jawabku sambil menghimpun kesadaran. Dia mengajakku turun. Sampai di bawah aku melihat pada jam dinding, ternyata sudah pukul setengah satu dini hari. “Apakah itu berarti impian cinderela telah usai?” bisikku pada diri sendiri, seakan tak rela. Sehabis mengambil air wudlu dan shalat, aku merangkai kembali bunga tidurku.
Shalat shubuhku tepat waktu, semua berkat PDA pemberian Ega. Memiliki PDA memang asyik sekali. Aku bisa menulis diary, belajar bernyanyi, membaca ebook dan lain sebagainya. Sementara memang fitur favoritku hanya alarm untuk mengingatkan waktu shalat. Namun tentu saja itu akan berkembang sesuai dengan kebutuhanku. Daftar contact hanya terisi nama Ega. Jadi nomer cantik itu hamper-hampir tidak terpakai. Bisa saja aku mendapatkan nomer-nomer teman lamaku jika aku mengusahakannya. Namun aku rasa aku harus mencari waktu yang tepat, yakni ketika aku sudah berdiri di atas kakiku sendiri. Setelah melantunkan firman Tuhan, aku memakai baju olah raga, kemudian masuk ruang fitness dan memulai program latihanku. Untuk latihan perdana aku anggap sebagai proses adaptasi. Melakukan semuanya dengan beban ringan. Untuk otot bahu, aku mengkombinasikan gerakan raises dan presses. Melatih otot bahu depan, samping dan belakang dari sudut yang berbeda. Berharap dengan latihan itu dapat memperbaiki frame tubuhku bagian atas. Untuk membentuk dada, aku memilih gerakan incline bench press karena mampu memindahkan titik berat ke dada atas terlebih dulu sebelum mengenai tricep dan deltoid. Untuk otot perut bagian atas, bawah dan samping, aku melakukan sit ups, crunches, leg raises dan side to side. Sekitar pukul 6 Ega bergabung denganku. Menurutku pakaian olah raganya terlalu terbuka, kelihatan seksi. Mungkin dia bukan seorang Muslimah jadi tidak merasa ada beban. Membersihkan rumah, merawat taman, memberi makan pada ikan dan kegiatan rumah tangga yang lain, kami lakukan bersama-sama. Mungkin aku terlalu berkhayal, tapi kami seperti pasangan suami istri, hanya saja tidur kami tidak seranjang. Bel berbunyi, pertanda kiriman makanan telah tiba. Kereta dorong berisi sisa makanan kemarin telah aku persiapkan. Dan kami pun bertukar kereta dorong di pintu gerbang. Sejak awal melihatku Ibu itu selalu memperhatikanku. Sebelum pergi memunggungiku, dia sempat mengucapkan beberapa kata padaku. “Ega sudah menceritakan semua tentang mas Dimas. Sudah melapor pada ketua RT mengenai keberadaan mas. Ibu hanya berpesan, Ega itu gadis yang baik, jadi jagalah apa yang perlu dijaga.” Aku tersenyum dan mengangguk tanda mengerti. Tidak menyangka akan mendapat wasiat seperti itu.
Lima hari berlalu dan Ega benar-benar menepati janjinya. Bahkan berlebihan. Mobil FeDex parkir di depan rumah dan menurunkan semua kiriman barang dari luar negeri. Belanja secara online memang terbukti sangat efektif. Tinggal click dari komputer, pesanan yang kita beli ada di depan rumah. Aku mengatakan berlebihan karena jumlah suplemen begitu melimpah. Seakan hendak membuat toko kecil. Ada produk Acon, Americell-Labs, AST, BSN, CleverChek, CytoSport, DreamTan, Dymatize, EasyTouch, Harbinger, ISS, L-MEN, LG Sciences, MaxMuscle, MHP, Muscletech, Natures Best, Natures Plus, Nutrabolics, Optimum Nutrition, Pro Gryp, Prolab, Rai Nutrition, Schiff, SciFit, Twinlab, Ultimate Nutrition, Universal Nutrition, Weider dan lain-lain. Aku bertanya pada Ega, “Untuk membeli semua ini, butuh berapa dolar ya?” “Puluhan ribu dolar,” jawab Ega ringan. “Apa? berarti ratusan juta rupian donk, mahal sekali.” Ekspresiku berubah, kepala agak menunduk, tidak mengira akan semahal itu. Uang sebanyak itu dihambur-hamburkan hanya untuk kepentinganku? tubuhku? Apakah itu sepadan? Ega memang gila kalau soal berbelanja. Aku penasaran, uang Ega totalnya berapa ya? “Tidak usah dipikirkan, semuanya gratis kok,” Ega menambahkan, membuyarkan lamunanku. Dia mengucap itu sambil berjalan masuk rumah. Pertanyaan kembali berputar-putar di kepalaku. Maksudnya gratis apa? Ega memberikan padaku gratis ataukah ada orang yang memberikan pada Ega secara gratis? Entahlah, kenapa juga aku mempermasalahkannya, sudah jelas semua itu gratis untukku. Melihat keseriusan Ega dalam program bodybuilding yang aku jalankan, aku pun tergerak untuk lebih bersungguh-sungguh. Aku tidak ingin mengecewakannya setelah apa yang semua dia lakukan. Binaraga memang olahraga yang hard namun dalam prosesnya, kualitas smart pun perlu dimiliki. Di dalam gym otot dirangsang dengan latihan angkat besi dan di luar itu otot diupayakan bagaimana caranya agar bisa berkembang secara maksimal. Tujuan berlatih angkat beban adalah menstimulasi otot agar berkembang menjadi lebih besar dan kuat daripada sebelumnya. Namun selain menstimulasi otot, perlu juga menstimulasi pusat susunan syaraf (central nervous system). Supaya tubuh mengeluarkan hormon pertumbuhan (growth hormone) sebanyak-banyaknya, maka perlu melakukan latihan yang bisa lebih merangsang pengeluaran hormon itu. Semakin tinggi intensitas latihan maka keseimbangan tubuh akan semakin terganggu. Akibatnya, saat beristirahat, central nervous system juga akan semakin banyak melepaskan growth hormone untuk membangun tubuh supaya dapat beradaptasi dengan beban pekerjaan yang semakin berat. Untuk mewujudkan itu semua, diperlukan kedisiplinan tinggi dan tentu saja langkah-langkah cerdas.
Di tengah hari saat kami asyik ber-internet, suara bel tiba-tiba mengusik. Ega langsung bertanya padaku, “Dalam almanak hijriah sekarang tanggal berapa?” Aku melihat kalender dan aku jawab, “Sekarang tanggal 15.” “Kalau begitu persilahkan masuk, Ega ganti pakaian dulu.” Seorang gadis seusia Ega berdiri di luar gerbang. Aku menduga Ega sudah membuat janji temu dengannya, jadi tanpa bertanya aku langsung mengantarnya ke ruang tamu. Kemudian aku pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman. Ega keluar datang menyambut dan dia terkejut, tidak mengenal siapa tamunya. “Loh, mbak ini siapa ya?” tanya Ega. “Maaf, perkenalkan nama saya Uni. Saya datang untuk menawarkan kerjasama bisnis personal franchise. Bolehkah saya memberikan informasi singkat mengenainya?” Ega belum mengiyakan tetapi gadis itu dengan sigap mengeluarkan sebuah laptop ukuran 14 inch dari dalam tasnya. Ega memang baik, melihat itu dia lantas tersenyum dan berkata, “Baiklah, mbak Uni sudah jauh-jauh datang kemari, tidak ada salahnya jika Ega mendengarkan. Silahkan mbak mulai presentasinya. Tapi jangan terlalu singkat, karena informasi yang sepotong itu cenderung menyesatkan. Dan harap diingat, jangan ada dusta di antara kita.” Setelah menaruh minuman aku hendak kembali nge-net. Namun Ega memintaku duduk menemaninya. Kali pertama gadis itu memohon agar kami tidak mendahulukan simpati ataupun antipati melainkan lebih mengedepankan empati. Lepas itu dia menceritakan latar belakang pendidikan akademisnya, mencoba membangun jembatan kepercayaan. Dia seorang mahasiswi, kuliah kedokteran di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Selanjutnya kembali ke laptop. Film singkat berjudul Pippo dan Embro diputar, sifatnya sebagai pembuka paradigma. Dan itu berhasil padaku, mempengaruhiku. Pippo dan Embro digambarkan sebagai dua orang pekerja yang bertugas mengangkut air dari atas gunung ke tempat pemukiman. Mereka diupah sesuai dengan banyaknya air yang berhasil mereka bawa. Embro mencurahkan seluruh waktunya untuk mengangkut air dengan menggunakan dua buah timba. Sedangkan Pippo, di samping mengangkut air ia juga menghabiskan sebagian waktunya untuk membangun jaringan pipa yang menghubungkan sumber air dengan tempat penduduk berada. Pada awalnya Embro tampak lebih kaya, namun ketika sudah tua, sudah mulai sakit-sakitan, dia tidak lagi mampu bekerja dan kekayaannya pun perlahan menyusut. Lain halnya dengan Pippo, di kala saluran pipanya telah jadi, ia tidak perlu lagi bekerja dan kekayaannya semakin melimpah. Embro mewakili kebanyakan orang. Bekerja untuk mendapatkan uang. Jika tidak bekerja dikarenakan alasan tertentu, maka ia tidak akan memperoleh pemasukan. Pippo juga bekerja, hanya saja kerjanya membangun aset dan aset itu mampu menghasilkan uang. Ketika ia tidak bekerja, aset tetap berproses dan karenanya uang tetap mengalir (passive income). Kerangka berpikir Pippo itulah yang ingin aku adopsi. Karena jika aset sudah terbangun, aku bisa memiliki kebebasan waktu dan kebebasan finansial. Suguhan selanjutnya adalah tentang bagaimana membangun sebuah aset. Secara singkat proposal kerjasama yang ditawarkan Uni adalah Tianshi. Sebuah perusahaan multinasional bidang bio technology, yang mempertemukan prinsip pengobatan China dengan teknologi modern. Aku melirik Ega, perhatiannya terpaku pada produk dan profil perusahaan Tianshi. Mr. Li Jinyuan adalah pendirinya dan beliau termasuk dalam jajaran orang-orang terkaya di China. Itu artinya, perusahaan besar Tianshi memiliki back up finansial yang kuat. Perusahaan dan produk Tianshi maupun pendirinya sudah banyak mendapatkan penghargaan baik dari dalam negeri maupun internasional. Kedatangan Tianshi ke negara-negara ekspansinya selalu disambut baik oleh orang-orang terkemuka, Kepala negara misalnya. Jika Ega tertarik dengan produk, maka aku lebih konsen pada peluang bisnis yang ada di balik produk. Aku tergiur dengan reward-nya dan itu mudah diterka bukan? Aku saksikan perhelatan akbar Tianshi. Janji-jani berupa Luxury Car, Yacht, Plane dan Villa Mewah benar-benar dipenuhi. Indonesia sudah menerima ratusan reward dari Tianshi. Dalam pesta tahunan itu aku perhatikan selalu dihadiri oleh ribuan orang dari penjuru dunia. Setelah melihat fakta dan data yang ada, aku merasa yakin kalau perusahaan Tianshi benar serius. Ega masih saja membolak-balik katalog produk, sedangkan aku sibuk menyimak penjelasan Uni yang antusias mengenai marketing plan beserta support system yang ada pada Tianshi Group. “Bagaimana pendapat mas mengenai produk China ini?” tanya Ega padaku. “John Helleman seorang ahli gizi dunia menyatakan bahwa produk Tianshi adalah produk kesehatan revolusioner. Di samping itu Mr. Li juga telah mengundang sejumlah tokoh besar Islam untuk melihat secara langsung proses produksi Tianshi di China. Dan KH. Hasyim Muzadi sendiri juga telah bergabung menjadi member bahkan beliau juga menjalankan bisnisnya. Dengan fakta itu, sertifikasi halal dan semua penghargaan yang pernah diperoleh Tianshi, menurutku bisa dipercaya.” “Baiklah, akan Ega coba saja produknya. Ega telah banyak mendengar orang-orang membicarakan tentang keampuhan produk Tianshi pada forum-forum di internet. Ega juga suka dengan hal-hal yang beraroma natural, jadi kalau nanti merasa cocok, Ega akan berlangganan.” Ega menunjukkan daftar pesanannya pada Uni. 10 box Nutrient High Calcium Powder, 10 box Antilipemic Tea, 10 botol Spirulina Capsules, 10 botol Benefecial Capsules, 10 botol Vitality Softgel Capsules, 10 Chitosan Capsules, 10 botol Cordyseps Mycellium Capsules, 10 botol Vigor Rousing Capsules dan 10 Tianshi Toothpaste. Total semuanya Rp. 17.284.000,- Aku menatap Uni, dia kelihatan ragu dan bertanya kembali pada Ega untuk meyakinkan. Hatiku berkata, “Belum tahu dia, Ega gitu loh!” Uni meminta data KTP dan Bank. Ega menyuruhku memberikan data-dataku, bergabung di Tianshi atas namaku. Senyumku berkembang, karena itu berarti aku bukan pengangguran lagi. Pendaftaran yang berlaku seumur hidup itu akan mengubah statusku menjadi network marketer. Bel berbunyi pertanda tamu yang ditunggu Ega sudah datang. Tiga orang wanita, perwakilan dari tiga panti asuhan yang berdomisili tidak jauh dari kompleks perumahan istana Dewandaru. Ega memperkenalkan kami dan suasana kekeluargaan begitu mudah menjalar. Perkembangan panti asuhan terakhir dikisahkan bergantian, mirip sebuah laporan bulanan. Suka duka yang dialami penghuni panti begitu mengharukan sekaligus mengenaskan. Beberapa kali mereka memuji Ega. Karena di usianya yang masih belia telah mampu memberikan kontribusi nyata bagi sebagian umat manusia. Untuk menggalang dana demi menghidupi, seringkali mereka harus bermuka tebal. Mengetuk pintu hati dari rumah ke rumah. Perlakuan manusiawi dan hewani telah menjadi santapan harian mereka. Mendengar itu inspirasiku tiba-tiba mencuat. Aku menyarankan agar setiap panti bergabung dengan Tianshi Group. Segera membangun aset. Karena tidak baik jika selamanya mengandalkan donatur. Nantinya, pihak panti tidak perlu lagi merasa malu untuk mendatangi sebuah rumah. Karena dengan keanggotaan sebagai distributor, mereka dapat memberikan pilihan alternatif pada calon donatur. Menyumbang secara langsung atau membeli produk atau bahkan bergabung dengan Tianshi Group. Bonus dari pembelanjaan secara otomatis akan mengalir ke dalam kas panti asuhan. Dengan melakukan hal itu, para donatur tidak merasa dirugikan karena uang mereka memperoleh ganti rugi yang dengannya mereka akan terbantu dalam hal kesehatan. Bukan hanya itu, mungkin saja ada sebagian donatur yang merasa cocok hingga memilih untuk memanfaatkan peluang bisnis Tianshi. Utusan dari panti itu pun akan semakin percaya diri karena mereka tidak lagi berperan seperti seorang pengemis. Lebih dari itu mereka akan merasa sedang dalam misi mengajak orang untuk hidup sehat dan kaya. Utusan itu sendiri bisa juga dijadikan frontline. Hingga ketika ia menemukan mitra baru, ia bisa menjadikannya sebagai downline yang itu berarti ia pun sedang membangun aset untuk kelangsungan hidupnya sendiri di masa mendatang. Atau bisa juga menggunakan prinsip bagi hasil atas setiap prestasi yang didapat, mengingat besarnya bonus yang ditawarkan. Dengan demikian, utusan tidak lagi seperti lilin yang mampu menerangi sedang dirinya sendiri terbakar. Utusan tidak selamanya menjadi utusan. Panti dan utusan memiliki kehidupan dan kepentingan masing-masing. Dengan bisnis ini, keduanya dimungkinkan untuk menjalin hubungan simbiosis mutualisme, saling menguntungkan. Setelah Uni memberi info detail tentang Tianshi, mereka seakan sudah tidak sabar untuk segera memulai. Artinya, mereka semua setuju dengan ideku. Aku meminta Uni aga pembelanjaan atas namaku hanya untuk produk Aculife. Selebihnya atas nama setiap panti dan utusan atau kurirnya. Dengan demikian, pembelanjaan Ega cukup untuk mengantarkanku pada peringkat Bintang 4 dan Bintang 3 untuk 3 panti asuhan plus 3 kurirnya. Ega pergi ke kamar mengambil sejumlah uang. Sama sepertiku dulu, Uni terpana melihat kecanggihan pintu kamar Ega. Hanya dengan cara menempelkan ibu jari dan kata perintah ‘BUKA’ atau ‘TUTUP’ pintu tipis dari baja itu baru akan bergerak. Ega memberikan 10 Juta pada masing-masing perwakilan dari panti. Ternyata setiap bulan Ega menyumbang sebesar itu pada mereka, 30 Juta perbulan, edan bukan? Selanjutnya 18 Juta Ega berikan pada Uni. “Itu untuk biaya produk dan 7 orang keanggotaan baru, sisanya pakai saja buat beli bakso. Pergilah ke stockis dengan orang panti dan biar mereka yang memberikan produk itu pada Ega,” kata Ega pada Uni. Kami berdua mengantar kepulangan mereka semua hingga pintu gerbang. Tatkala berjalan memasuki rumah, Ega menyindirku, “Mas Dimas berbakat juga ya dalam bisnis jaringan?” “Bisnis ini ku anggap hadiah dari non Ega, jadi aky tidak akan menyiakannya begitu saja. Makasih banyak ya.” Kami berdua tersenyum.
Pengantar pizza hut telah tiba, aku dan Ega menyambutnya dengan semangat '45. Sekilat sorot mata Ega menyapu langit, kemudian melangkahkan kaki ke dalam rumah dengan wajah berbinar. "Kita makan di atas aja, yok?" ajak Ega dengan mimik antusias. "Ide yang bagus tuh, pasti asyik!" jawabku ceria, mengimbangi kegembiraannya. Kami men-shut down komputer dan mengisi air minum dalam botol sebagai persiapan piknik kecil-kecilan. Ega mengenakan kaos kakinya dan menenteng sebuah selimut tebal. Sampai di lantai 2 kami berhenti sejenak mengambil beberapa barang di kamar. Sebuah karpet serta tiga kardus dan tiga bantal. Kardus itu ternyata berisi aneka lampu warna-warni seperti lampu-lampu yang biasa berjejer di jalanan saat hari kemerdekaan. Kardus kedua berisi lampion lipat produk dari China lengkap dengan lilinnya. Sedangkan dalam kardus ketiga, isinya adalah kembang api dengan berbagai macam variasi. Lantai 3 sudah didesain sedemikian rupa sehingga aku hanya tinggal memasangnya di tempat-tempat yang telah disediakan. Ketika lilin dan lampu telah menyala, wuah! luar biasa indah. Benar-benar sebuah surga dunia bagi mata. Kami menyantap pizza dengan diiringi alunan musik klasik dari PDA-ku. Kemudian bermain kembang api sambil menari dan bernyanyi. Di kala Ega asyik berputar dengan keanggunan dan tawa renyahnya, dia berhenti dan memanggilku. "Mas, tolong tiupkan mata Ega, sepertinya kemasukan abu kembang api." Aku mendekat ragu. Kemudian menghembuskan udara ke bola matanya. "Yach, mas Dimas.. agak kencengan dikit donk!" protes Ega. Aku gugup. Namun setelah mengumpulkan semua keberanian, misi itu pun sukses. Ingin sekali aku berterima kasih pada abu itu. Karena berkat jasanya, aku bisa sedekat itu dengan Ega. Sekian detik aku terpana menatap wajahnya dan itu cukup bagi Ega untuk menyadari sesuatu. "Tolong, jangan memandang Ega seperti itu jika mas tidak mampu memandang Ega seperti itu selamanya." Aku ingin berteriak bahwa aku pasti punya kemampuan itu, namun faktanya aku hanya terdiam. Belum mampu mengimbangi pernyataan kompleks itu. Kami berdua berbaring terlentang, menatap rembulan dan bintang gemintang. Satu karpet, satu selimut, hanya bantal guling yang memisahkan. "Non Ega.. bisa tidak kita bicara?" bisikku pada Ega. "Iya, tentu saja, mau ngobrolin apa nih?" "Apakah non Ega selalu merayakan bulan purnama? tempat ini sepertinya sudah dikondisikan." "Itu benar. Ega suka menikmati hal-hal sederhana semacam sunrise, sunset, hujan dan peristiwa alam lainnya. Bulan purnama Ega istimewakan karena saat itu Ega sedang berulang tahun." "Apa? Jadi tadi itu kita merayakan ulang tahun ya?" "Pestanya masih berlangsung kok, bahkan sekarang adalah acara puncaknya." "Iya-ya. Oia, maaf ya aku tak bawa kado?" "Keberadaan mas di sini, itu lebih dari cukup bagi Ega. Di samping itu, Ega lebih suka menularkan kebahagiaan dengan cara memberi daripada menerima. Seperti tadi siang. Ega sengaja menyuruh mereka datang pada tanggal 15. Menjadikan mereka sebagai alarm ultah sekaligus pengingat untuk berbagi." "Non Ega baik sekali ya," pujiku padanya. Ega tertawa dan menambahkan perkataannya, "Justru kepada mereka Ega harus berterima kasih, karena berkat mereka, hati Ega melembut dan Ega merasa seakan sedang dibawa selangkah lebih dekat kepada Tuhan." "Waow, bijak sekali!" teriakku. Ega makin meledak tawanya. "Mas ini bisa saja, Ega sampai kaget. Oia, boleh tidak Ega meminta sesuatu sebagai kado?" "Tentu saja boleh. Hidup matiku sekarang aku persembahkan untuk non Ega." Aku tertawa, mencoba menutupi keteganganku. Dengan hati berdebar aku menunggu, penasaran dengan kata apa yang akan keluar. "Tolong, mas jangan memanggil dengan sebutan non Ega, kesannya feodal. Cukup Ega saja, biar terasa kedekatan kita." "Itu artinya apa?" "Artinya adalah, Ega sudah percaya penuh pada mas Dimas. Menganggap mas sebagai keluarga sendiri. Jadi mas tidak perlu malu lagi kepada Ega. Bagaimana?" Aku terharu. "Baiklah, asal Ega bahagia, dengan senang hati aku akan melakukannya. Untuk Ega, apa sih yang enggak?" "Dasar playboy.." Ega memandangku sekilas, ramah. Kami berdua tersenyum. Kembali tenggelam dalam putihnya cahaya rembulan yang gemerlapan. Aku menatap Ega, begitu khusuk dia menghayati bulan. Aku penasaran, kira-kira apa yang sedang dipikirkannya. Apakah dia sedang teringat prosesi kelahirannya? Apakah dia kesepian, rindu dengan kedua orangtuanya? Ega memang kaya harta, namun teramat miskin dalam hal keluarga. Padahal keluarga adalah harta yang paling berharga. Hanya saja banyak orang yang kurang mau menyadarinya. Baru merasa kehilangan tatkala ditinggalkan. Aku mengamati bulan seakan sedang menyaksikan potret kehidupan Ega. Di balik kecemerlangannya terdapat sudut-sudut gelap, bintik-bintik hitam yang tak dapat dihindari. Mungkin itulah resikonya menjadi manusia, selalu ada kepenuhan dan kekosongan, punya kelebihan dan kekurangan sekaligus. Ega tertidur, memeluk lembut bantal guling. Berbaring menghadap ke arahku. Ku pandang lekat wajah indahnya. Dua kali seminggu wajah itu menjalani perawatan di salon kecantikan. Jutaan rupiah seakan tidak hilang percuma jika hasil akhirnya adalah mahakarya sebagaimana wajahnya Ega. Bersama dengan Ega memberiku rasa damai yang tak terbatas.
|